Antisipasi Mutasi Covid-19, Lakukan 3 Cara Untuk Cegah Penularan

oleh

SABER | Pandemi COVID-19 telah berlangsung selama satu tahun di Tanah Air. Beragam perubahan untuk beradaptasi pun mulai dilakukan, khususnya dengan aplikasi-aplikasi yang menunjang untuk pertemuan virtual maupun pelayanan medis.

Apalagi saat ini, pemerintah baru saja menemukan dua kasus dari mutasi virus corona asal Inggris, yang terbukti lebih menular.

Dilansir dari Viva.com, Lantas, apa saja perubahan yang perlu kita lakukan agar lebih siap menghadapi pandemi tahun 2021 ini?

Cermat memilih fasilitas kesehatan

Perlu diketahui, data Kementerian Kesehatan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan per Februari 2021 mencatat, jumlah rumah sakit di seluruh Indonesia sebanyak 2.925. Pulau Jawa sendiri memiliki 1.244 rumah sakit, atau sekitar 45,9% dari seluruh rumah sakit yang ada di Indonesia. Bahkan provinsi Kalimantan Utara menjadi Provinsi dengan jumlah rumah sakit terendah hanya memiliki 11 rumah sakit.

Tidak hanya belum meratanya layanan kesehatan seperti rumah sakit, apotek juga masih didominasi di pulau Jawa. Di mana, berdasarkan data rekapitulasi Apotek Indonesia dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah apotek yang tersedia pada tahun 2018 adalah sebanyak 24.874 unit, dengan Jawa Barat sebagai daerah yang memiliki jumlah apotek terbanyak yaitu 4.298.

“Dengan masih terkonsentrasinya akses layanan kesehatan seperti rumah sakit dan juga apotek di pulau Jawa, tentunya diperlukan inovasi layanan kesehatan agar dapat dirasakan secara merata, yaitu melalui akses layanan kesehatan secara online,” CEO Lifepack & Jovee, Natali Ardianto, dikutip dari keterangan tertulis.

Akses pelayanan medis online

Tak hanya fasilitas kesehatan saja,Industri kesehatan di Indonesia masih menyimpan banyak masalah. Yang paling utama adalah akses layanan kesehatan itu sendiri, dari mulai ketersediaan rumah sakit dan apotek.

Sejak pandemi dimulai, Pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sehingga mobilitas masyarakat menurun drastis, lalu disusul dengan menumpuknya pasien di berbagai fasilitas kesehatan.

“Untuk itu, layanan kesehatan digital seperti Lifepack dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.” ungkap Natali.

Mulai tingkatkan suplemen

Masalah lainnya, terkait peredaran obat dengan keaslian yang terjamin. Karena menurut World Health Organization (WHO), peredaran obat palsu di Indonesia masih sangat tinggi mencapai 25 persen. Hal ini tentu membahayakan kondisi masyarakat di tengah Pandemi yang masih melanda.

Natali menambahkan, tidak hanya peningkatan penggunaan layanan apotek online, namun pandemi juga memberikan peningkatan konsumsi vitamin dan suplemen di masyarakat. Adapun vitamin yang paling banyak dicari oleh masyarakat adalah vitamin C.

Namun masyarakat Indonesia sendiri dalam pemilihan vitamin mempunyai karakteristik tersendiri. Ada yang fokus terhadap brand namun ada juga yang menyukai herbal.

“Melihat karakteristik tersebut, penggunaan aplikasi Jovee dapat membantu masyarakat yang belum tahu kebutuhan vitamin yang tepat bagi tubuh. Karena isu atau hoax mengenai kesehatan masih sangat tinggi di Indonesia, tentunya literasi kesehatan perlu terus ditingkatkan,” tuturnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *