Nurdin : Omong Doang (Omdo)

SABER, PALOPO  |  Ada ungkapan menarik dari Gus Baha, bahwa “Orang yang ingin memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya adalah merupakan bentuk keangkuhan” (Mungkin) akan banyak di antara kita yang sependapat dengan ungkapan sang kiyai kondang itu.

Betapa tidak, kenyataan memperlihatkan kepada kita bahwa korupsi sepertinya sudah membudaya dan bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di belahan dunia lainnya. Bahkan berdasarkan pemberitaan yang mengacu pada Transparency International.

Bacaan Lainnya

Nilai atau skor Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia adalah 34 dari 100. Skor tersebut membuat Indonesia berada di peringkat 115 dari 180 negara yang ditakar kadar korupsinya pada tahun 2023. Nah, bagaimana korupsi itu sehingga semakin merajalela ?

Salah satu penyebabnya adalah adanya sistem yang lemah selain karena hilangnya rasa malu. Sistem yang lemah itu termasuk birokrasi yang terlalu berbelit-belit, ngurus KTP saja misalnya, harus ini dan itu sehingga orang yang berintegritas pun akan berupaya mencari jalan pintas.

Jalan pintas inilah yang dimainkan oleh mereka yang tidak punya rasa malu dengan dalih hendak membantu, meminta sesuatu. Padahal semestinya, membantu itu tidak mengharapkan imbalan atau balasan, namanya juga membantu.

Terkait dengan rasa malu apalagi di momen politik ini, kata kawan saya, “Ada sebagian orang yang tiba-tiba baik, tidak malu-malu menawarkan imbalan sejumlah uang dengan catatan memilihnya dalam Pemilu mendatang” Meski secara hukum belum bisa dibuktikan dan agak sulit membuktikannya secara hukum sebab merupakan simbiosis mutualisme.

Namun, perbuatan curang seperti itu yang jika digunakan untuk menduduki jabatan tertentu adalah merupakan cikal bakal dari tindak pidana korupsi. Jadi, menurut saya, bahwa korupsi bukan hanya mengambil uang rakyat tetapi juga tidak terkecuali berlaku curang untuk memperoleh jabatan tertentu.

Mengambil uang rakyat hanya akibat dari yang awalnya menghalalkan segala macam cara untuk kemudian menduduki sebuah jabatan. Nah, di tahun inilah merupakan momen terbaik untuk mengedukasi masyarakat, bagaimana sejatinya seorang jika ingin jadi pemimpin yang baik.

Sehingga, kalau misalnya, ada calon pemimpin yang berteriak akan memberantas korupsi namun kepimpinan yang diperolehnya dengan cara yang curang, itu sama halnya tong kosong nyaring bunyinya, hanya cerita omong kosong belaka, omong doang (Omdo) kata anak muda sekarang.

Sebab jika seorang pemimpin dihasilkan dari proses curang, maka akan menghasilkan pemimpin yang juga curang dan dapat dipastikan perilaku koruptif tidak akan pernah bisa selesai sebagaimana yang kita harapkan, malah yang muncul sebaliknya.

Dan jika itu terjadi, maka perlahan-lahan negara ini akan ambruk seiring dengan ambruknya para pelaku-pelaku yang curang. Itu karena ketika kelak dikemudian hari terpilih, mereka hanya akan mementingkan dirinya, keluarganya dan atau kelompoknya sementara rakyat yang sekian juta itu, hanya akan menjadi penonton.

Perlu diingat, bahwa kekuasaan atau kepemimpinan (apalagi kekuasaan atau kepemimpinan yang diperoleh dengan cara curang, berbuat tidak jujur, tidak adil, merugikan pihak lain) hanya akan menjadi penyesalan kelak dikemudian hari.(*)

Oleh : Nurdin (Dosen IAIN Palopo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.