SABER, PALOPO | Gym adalah ruang publik yang diisi oleh individu dengan tujuan bersama menjadi lebih sehat, lebih kuat, dan terus mengembangkan diri. Namun, di balik semangat mengangkat beban, sering kali muncul pelanggaran etika yang mengganggu kenyamanan bersama. Hal ini menjadi perhatian Bang Tiwa, seorang influencer kebugaran dari Palopo yang juga berprofesi sebagai advokat.
Bang Tiwa mengidentifikasi beberapa “dosa klasik” di gym. Tidak membersihkan plate setelah digunakan, membanting alat sambil berteriak berlebihan seolah wanita yang baru pertama kali melahirkan dan membiarkan bangku penuh keringat tanpa dilap adalah pelanggaran etika paling mendasar,” tegasnya. Selasa (17/2/26).
Ia menekankan bahwa menjaga kebersihan dan bertanggung jawab terhadap peralatan adalah bentuk penghormatan kepada anggota gym lainnya. “Gym bukanlah panggung untuk mencari sensasi. Kita datang untuk berlatih, bukan untuk membuat drama,” lanjutnya.
Selain itu, Bang Tiwa juga membahas apa yang ia sebut sebagai “dosa lintas generasi” fenomena di mana sekelompok orang datang dan mendominasi satu alat dalam waktu yang lama, yang sering kali membuat anggota lain harus menunggu. Praktik ego lifting, yaitu mengangkat beban semata-mata demi gengsi tanpa memperhatikan teknik yang benar, juga menjadi sorotan. Lebih berbahaya lagi jika seseorang merasa paling tahu dan mulai mengajari orang lain tanpa diminta. Setiap individu memiliki program dan tujuan yang berbeda,” ujar bang Tiwa yang telah berkecimpung di dunia gym selama hampir dua dekade.
Tidak kalah penting, ada juga “dosa sosial.” Menggunakan alat orang lain tanpa izin, memakai parfum berlebihan hingga menyengat seperti hendak pergi ke kondangan atau berbicara dengan suara keras di depan alat hingga menghalangi akses adalah contoh perilaku yang perlu dihindari. “Gym memang tempat untuk bersosialisasi, tetapi tetap ada adab yang harus dijunjung. Jangan sampai niat baik untuk sehat berubah menjadi sumber gangguan bagi orang lain,” tuturnya.
Sebagai seorang advokat, Bang Tiwa menekankan pentingnya etika di ruang publik sebagai bagian dari tanggung jawab moral. “Otot boleh kuat, tetapi sikap harus tetap bijaksana. Jika ingin dihargai, belajarlah menghargai orang lain. Di gym, kita tidak hanya mengangkat beban, tetapi juga membangun kedewasaan,” pungkasnya.(*)





