18 Tahun di Dunia Fitness, Bang Tiwa: Yang Bertahan Lewat Bulan ke-4 Itu Juara Sejati

SABER, PALOPO | Dunia kebugaran tengah ramai membicarakan fenomena yang disebut sebagai “bulan ke-4” bagi para pemula di gym. Istilah ini merujuk pada masa kritis setelah seseorang rutin berlatih selama tiga bulan, namun mulai kehilangan motivasi saat masuk bulan keempat.

Aktivis kebugaran sekaligus influencer fitness, Bang Tiwa, menjelaskan bahwa fase ini ibarat “zona maut” yang kerap membuat banyak orang berhenti sebelum meraih hasil nyata. “Awal bulan semangat biasanya membara, bulan kedua dan ketiga masih bisa konsisten. Tapi masuk bulan keempat, rasa malas mulai muncul, progres belum terlihat signifikan, akhirnya banyak yang drop niat,” jelasnya.

Bacaan Lainnya

Menurut Bang Tiwa, ada beberapa faktor yang membuat banyak orang menyerah di fase tersebut. Mulai dari ekspektasi terlalu tinggi, program latihan yang tidak tepat, hingga kurangnya pemantauan progres. “Banyak yang pengen hasil instan, maunya badan ala dewa dalam sebulan. Padahal otot butuh waktu, bukan empat minggu, tapi berbulan-bulan,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa kunci untuk melewati “bulan ke-4” adalah pengelolaan mental. Membuat target kecil, rutin mencatat progres, dan menurunkan ekspektasi instan akan membantu seseorang bertahan lebih lama. “Gym itu maraton, bukan sprint. Yang berhasil bukan yang paling kuat di awal, tapi yang bisa bertahan sampai konsisten. Kalau bisa lewat bulan keempat, itu tandanya naik level,” ungkap Bang Tiwa.

Dengan pengalaman lebih dari 18 tahun di dunia kebugaran, Bang Tiwa mengaku sudah sering melihat fenomena ini. Ia bahkan sempat menjadikan hal tersebut sebagai bahan lelucon dengan memberitahu member baru. “Saya suka bilang, jangan baru dua-tiga bulan nge-gym langsung ngerasa jago, minta dipanggil ‘abang fitness’. Lihat aja nanti bulan keempat, kalau masih nongol di gym, baru saya percaya serius,” ujarnya sambil tertawa.

Tak hanya soal konsistensi, Bang Tiwa juga menekankan pentingnya teknik latihan yang benar. Ia berpesan agar pemula tidak hanya fokus pada satu otot saja. “Semua otot harus dilatih, jangan cuma dada sama biceps doang. Dan yang paling penting, kasih rest pada otot setiap minggunya. Jangan pernah melatih otot yang sama di hari berikutnya, karena otot butuh recovery untuk bisa tumbuh,” tegasnya.

Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa dunia kebugaran bukan sekadar mengejar bentuk tubuh cepat, melainkan perjalanan panjang membangun gaya hidup sehat. “Yang paling sukses adalah mereka yang bisa survive, bukan mereka yang buru-buru cari jalan pintas,” tutup Bang Tiwa.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *