SABER, PALOPO | Luwu bukan hanya nama daerah ia adalah simbol dari asal-usul, kebijaksanaan, dan keberanian. Dalam kisah para to-manurung dan catatan lontara, Luwu berdiri sebagai kerajaan tertua di jazirah Sulawesi, tempat lahirnya nilai-nilai kepemimpinan, persaudaraan, dan tanggung jawab terhadap tanah air.
Selama berabad-abad, Luwu menjadi poros kebudayaan dan perdagangan, menghubungkan masyarakat pesisir, pegunungan, dan pulau-pulau kecil di Teluk Bone.
Ada sesuatu yang tidak bisa dihapus dari ingatan sejarah bahwa Luwu adalah tanah asal persaudaraan. Dari sungai Lamasi hingga pantai Malili, dari pegunungan Rongkong hingga teluk Palopo, setiap langkah rakyat Luwu Raya adalah bagian dari satu cerita panjang cerita tentang kebersamaan dan keteguhan hati.
Zaman boleh berubah, batas administratif boleh bergeser, tapi jiwa Luwu tidak pernah pudar. Ia hidup dalam bahasa yang sama, dalam adat yang satu, dalam kesadaran bahwa setiap anak Luwu membawa warisan tanggung jawab menjaga, menguatkan, dan menyatukan.
Di masa modern, warisan itu masih hidup dalam semangat kerja keras rakyatnya para petani di Bajo, nelayan di Malili, pekerja tambang di Sorowako, dan pelajar di Palopo. Semua memiliki benang merah yang sama: mimpi akan keadilan pembangunan dan kesejahteraan yang merata.
Namun sejarah juga memberi pelajaran bahwa kejayaan tidak akan datang jika rakyatnya terpecah, atau jika mereka lupa pada jati dirinya. Kini, kesadaran kolektif masyarakat Luwu Raya harus dibangkitkan kembali bukan untuk menengok ke masa lalu, tetapi untuk menyambung cita-cita leluhur dengan cara yang bermartabat, modern, dan inklusif.
Kesadaran kolektif itu berarti memahami bahwa Pemekaran Luwu Raya bukan sekadar pembentukan wilayah baru, tapi upaya melanjutkan warisan sejarah agar rakyatnya mendapatkan pelayanan dan kesempatan yang setara.
Bahwa kekuatan sejati masyarakat Luwu terletak pada kebersamaan lintas suku, agama, dan wilayah dari Masamba hingga Malili, dari Palopo hingga Latimojong.
Dan bahwa perjuangan ini harus ditempuh melalui dialog, pengetahuan, dan gotong royong, bukan dengan perpecahan atau sikap saling curiga.
Dari sejarah Luwu kita belajar:
Kehormatan tidak lahir dari kemarahan, tapi dari kesetiaan terhadap nilai-nilai luhur lempu (kejujuran), getteng (keteguhan), dan ade’ (tata kehidupan yang adil).
Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi fondasi bagi perjuangan menuju masa depan Luwu Raya sebagai provinsi baru yang berdaulat secara sosial, kuat secara ekonomi, dan adil bagi semua warganya.
Kini saatnya generasi Luwu Raya bersatu dalam satu kesadaran, bahwa sejarah yang agung harus dihidupkan kembali, bukan hanya dalam buku dan legenda, tetapi dalam tindakan nyata membangun masa depan bersama.
Luwu telah memberi warisan.
Tugas kita hari ini adalah menjadikan warisan itu arah bagi perubahan yang lebih baik dengan ilmu, persatuan, dan cita-cita untuk menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat di tanah Luwu Raya.
Kini, kita dipanggil oleh zaman untuk melihat lebih jauh dari sekadar wilayah, untuk memaknai kembali apa arti rumah besar bernama Luwu Raya.Rumah ini bukan milik satu golongan, bukan warisan satu generasi.Ia adalah hasil dari kerja keras petani di lembah, guru di pedalaman, nelayan di pesisir, dan pemimpin yang mengabdi dalam diam.
Mereka semua adalah jantung yang membuat Luwu tetap berdetak.
Namun kita juga harus jujur: masih ada ketimpangan, keterlambatan, dan kesenjangan yang membuat sebagian saudara kita tertinggal.Dan di sinilah kesadaran lintas sektoral menjadi penting karena kemajuan tidak akan datang dari satu arah.Kepala daerah tidak bisa berjalan sendiri.Pemuda tidak bisa berteriak sendiri.Akademisi tidak bisa menulis sendiri.Dan masyarakat tidak bisa berharap sendiri.
Kita hanya bisa kuat jika semua unsur berdiri di barisan yang sama. Kesadaran ini bukan sekadar tentang pembangunan, tapi tentang menghidupkan kembali semangat lama: “Wija To Luwu”rakyat Luwu yang setia pada tanahnya.Setia bukan karena darah, tapi karena cinta dan tanggung jawab terhadap masa depan.
Mari kita bayangkan sejenak bila seluruh unsur Forkopimda, tokoh adat, guru, mahasiswa, petani, nelayan, dan pengusaha duduk di satu meja, bukan untuk berbicara tentang perbedaan, tapi untuk menyusun cita-cita bersama.Sebuah cita-cita tentang Luwu Raya yang kuat secara ekonomi, adil secara sosial, dan bermartabat secara budaya.
Perjalanan menuju Luwu Raya yang mandiri bukanlah perjalanan singkat. Ia bukan sekadar rencana administratif, tapi proses kebangkitan kesadaran.Kesadaran bahwa masa depan tidak diwariskan ia harus diperjuangkan bersama.
Maka biarlah hari ini menjadi awal kita menata kembali niat:Bahwa setiap sektor, setiap pemimpin, setiap warga, punya peran untuk menjaga bara kecil yang pernah menyatukan kita.Dan bila bara itu kita jaga bersama, maka kelak akan menyala bukan menjadi api perpecahan, tapi menjadi cahaya yang menerangi seluruh tanah Luwu Raya.
Salama to pada salama.







