Diantara Besi Dan Cermin, Etika Gym Dinilai Masih Rendah

SABER, PALOPO | Etika di tempat kebugaran atau gym dinilai masih kerap diabaikan oleh sebagian member. Hal ini disampaikan oleh Bang Tiwa, seorang influencer fitness asal Palopo yang juga berprofesi sebagai advokat meningkatnya jumlah pusat kebugaran tidak selalu diikuti dengan meningkatnya kesadaran etika para penggunanya.

Bang Tiwa mengungkapkan, salah satu pelanggaran etika yang paling sering ia temui adalah kebiasaan tidak mengembalikan alat latihan ke tempat semula. Dumbbell, barbel, hingga plate beban sering dibiarkan berserakan. “Gym itu ruang bersama, bukan milik pribadi. Kalau alat tidak dikembalikan, itu bukan cuma tidak sopan, tapi juga berisiko membahayakan orang lain,” ujarnya. Kamis (29/01/26).

Bacaan Lainnya

Selain itu, ia juga menyoroti penggunaan alat latihan yang terlalu lama tanpa mempertimbangkan member lain. Fenomena bermain ponsel, atau sekadar duduk berlama-lama di atas alat latihan menjadi pemandangan yang umum, terutama di jam sibuk. “Kalau mau bermain hp, silakan, tapi jangan sampai mengorbankan hak orang lain untuk berlatih,” katanya.

Masalah kebersihan juga menjadi perhatian serius. Bang Tiwa menilai masih banyak member yang abai membersihkan alat setelah digunakan. Padahal, gym adalah ruang publik yang rentan menjadi tempat penyebaran penyakit jika kebersihan diabaikan. Etika kebersihan itu bagian dari tanggung jawab sosial,” tegasnya.

Sebagai seseorang yang telah berkecimpung di dunia gym hampir 19 tahun, Bang Tiwa berharap kesadaran etika dapat ditanamkan sejak awal. Ia menekankan bahwa membangun tubuh ideal harus sejalan dengan membangun sikap yang dewasa. Otot bisa dibentuk dengan latihan, tapi etika dibentuk dari kesadaran. Gym yang sehat bukan hanya soal fisik, tapi juga karakter,” tutupnya.(tw*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *