SABER, PALOPO | Aksi demonstrasi yang menuntut pemekaran Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah berdampak langsung pada aktivitas ekonomi di wilayah perbatasan. Massa aksi memblokade Jalan Trans Sulawesi selama empat hari berturut-turut, menyebabkan arus kendaraan lumpuh total dan mobilitas masyarakat terhenti.
Penutupan akses jalan tersebut membuat kawasan perbatasan yang biasanya ramai dilalui sopir lintas provinsi mendadak sepi. Tidak hanya sektor transportasi dan perdagangan yang terdampak, aktivitas ekonomi informal juga ikut terpukul akibat minimnya kendaraan yang melintas selama aksi berlangsung.
Seorang pekerja s*ks komers*al (PSK) yang tidak mau disebut namanya di kawasan perbatasan mengaku mengalami penurunan drastis jumlah pengunjung. Ia menyebut, selama empat hari pemblokiran jalan, hampir tidak ada tamu yang datang. “Biasanya ramai sopir singgah, tapi sekarang benar-benar kosong,” ujarnya. Selasa (28/01/26).
Kondisi ini menunjukkan bahwa aksi pemblokiran jalan tidak hanya berdampak pada kelancaran lalu lintas, tetapi juga menyentuh lapisan ekonomi paling bawah.
Sejumlah warga berharap agar tuntutan politik dapat disampaikan tanpa harus mengorbankan mata pencaharian masyarakat yang menggantungkan hidup pada aktivitas jalan nasional tersebut.(*)







