Olahraga Sehat Tidak Diukur dari Setiap Hari, Ini Penjelasan Bang Tiwa

SABER, PALOPO | Olahraga setiap hari berarti aktivitas fisik dilakukan tanpa jeda, tujuh hari dalam seminggu. Fokusnya ada pada frekuensi harian, bukan pada perencanaan beban. Jika tidak diatur dengan baik, olahraga setiap hari berisiko menimbulkan kelelahan, overtraining, cedera otot, bahkan penurunan performa.

Namun, bila intensitasnya ringan hingga sedang seperti jalan kaki, peregangan, atau yoga, olahraga harian justru bermanfaat untuk menjaga metabolisme dan kebugaran dasar.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, olahraga konsisten menekankan pada keteraturan dan keberlanjutan jangka panjang. Tidak harus dilakukan setiap hari, tetapi terjadwal, misalnya tiga hingga lima kali seminggu, dengan intensitas dan jenis latihan yang terukur. Konsistensi memberi ruang bagi tubuh untuk beradaptasi, otot pulih dengan baik, dan hasil yang dicapai lebih stabil baik untuk pembentukan fisik, kesehatan jantung, maupun kesehatan mental.

Singkatnya, olahraga setiap hari lebih menekankan pada “seberapa sering”, sedangkan olahraga konsisten menitikberatkan pada “seberapa teratur dan berkelanjutan”. Dalam konteks kesehatan jangka panjang, konsistensi jauh lebih penting daripada sekadar latihan tanpa henti. Lebih baik tidak setiap hari tapi konsisten, daripada setiap hari namun cepat berhenti karena kelelahan.

Pandangan ini sejalan dengan penjelasan Bang Tiwa, influencer fitness asal Palopo sekaligus berprofesi advokat, kesalahan umum adalah menyamakan rajin olahraga dengan sehat. “Banyak orang bangga olahraga tiap hari, tapi mengabaikan istirahat, nutrisi, dan pemulihan. Padahal sehat itu bukan soal seberapa sering berkeringat, tapi seberapa cerdas kita mengatur tubuh,” ujarnya. Senin (26/01/26).

Bang Tiwa menegaskan bahwa olahraga berlebihan tanpa jeda pemulihan justru berisiko menimbulkan cedera dan penurunan daya tahan tubuh. Hal ini juga didukung oleh berbagai jurnal keolahragaan yang menyebutkan bahwa latihan intens tanpa pemulihan yang cukup dapat menurunkan performa dan meningkatkan risiko gangguan muskuloskeletal serta sistem imun.

Selain frekuensi, kualitas dan perencanaan latihan juga menjadi faktor krusial. Latihan yang tidak terarah, teknik yang salah, serta intensitas yang tidak sesuai kondisi fisik justru kontraproduktif. Program latihan yang terukur dan berkelanjutan terbukti lebih efektif menjaga kesehatan dibanding olahraga yang dilakukan terus-menerus tanpa perencanaan.

Karena itu, Bang Tiwa mengajak masyarakat untuk lebih bijak memaknai olahraga sebagai investasi jangka panjang. Konsistensi, keseimbangan, dan pemulihan harus berjalan beriringan. Ia pun menegaskan prinsip yang selalu ia sampaikan dalam edukasi kebugaran: “olahraga beban adalah untuk sehat jangka panjang.”kuncinya.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *