SABER, PALOPO | Tren hidup sehat dengan mengandalkan kardio secara berlebihan dinilai menyimpan risiko serius bagi kesehatan jangka panjang. Hal ini disampaikan Bang Tiwa, influencer fitness asal Palopo sekaligus pegiat lari, yang mengkritik keras pola latihan kardio tanpa diimbangi angkat beban dan asupan nutrisi yang memadai.
Bang Tiwa sapaan akrab S. Heriyanto Tiwa ini menjelaskan, kardio memang memiliki manfaat besar bagi jantung dan sistem pernapasan. Kardio melatih otot jantung, meningkatkan VO₂ max, memperpanjang napas, dan membuat kerja pompa jantung semakin efisien. Itu fakta yang tidak bisa dibantah,” ujarnya.
Namun, kata Dia, bahwa masalah muncul ketika kardio dilakukan terlalu sering dengan durasi panjang, sementara asupan makan justru ditekan seminimal mungkin demi mengejar tubuh kurus. Energi yang dipakai saat kardio sangat besar. Kalau tubuh kekurangan energi, cadangan gula habis, lemak habis, maka tubuh akan mengambil protein. Dan protein itu berasal dari otot,” jelasnya. Kamis (1/1/26).
Bang Tiwa juga yang berprofesi sebagai advokat, menyebut, kondisi tersebut kerap tidak disadari karena terjadi perlahan. Otot akan terpecah sedikit demi sedikit dalam jangka panjang. Banyak orang salah persepsi. Makan harus sedikit dan ‘bersih’, kardio sebanyak mungkin, karena merasa itu paling sehat. Padahal, ini bisa jadi pintu masuk ke kondisi berbahaya,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa pola tersebut dapat berujung pada sarkopenia, yakni kondisi rendahnya massa otot, kekuatan otot, dan performa otot. Dampaknya, sangat serius terutama di usia lanjut. Otot itu bukan cuma buat gaya. Otot menopang tulang dan sendi. Kalau otot lemah, tulang dan sendi kehilangan stabilitas, gampang sakit, gampang cedera, bahkan bisa terjadi pergeseran tulang belakang dan nyeri kronis,” katanya.
Tak hanya itu, lanjutnya efek lain dari kardio berlebihan yang jarang dibahas, yakni membuat tubuh terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Defisit energi berkepanjangan akibat kardio ekstrem dan pola makan minim dapat mempercepat hilangnya massa otot dan lemak sehat yang memberi kesan segar pada tubuh. “Umur di KTP masih muda, tapi badan sudah terasa seperti veteran perang,” ujarnya.
Ia menambahkan, tubuh yang terlalu kering dan kehilangan otot membuat postur mudah membungkuk dan wajah tampak lelah lebih cepat. Lari boleh kencang, tapi jangan sampai menua lebih cepat dari jadwal,” katanya.
Sebagai pegiat lari, Bang Tiwa menegaskan dirinya tidak anti kardio. Namun ia mengkritik fanatisme berlebihan. Kardio itu penting, tapi angkat beban itu wajib. Dua-duanya harus seimbang. Kardio bikin jantung kuat, latihan beban bikin tubuh tetap kokoh,” ujarnya.
Ia pun mengimbau para pecinta lari dan olahraga kardio untuk lebih bijak dalam menyusun pola latihan. Perhatikan asupan makanan, baik jumlah maupun kualitasnya. Jangan takut makan, jangan takut angkat beban, dan latih semua kelompok otot. Sehat itu bukan cuma kurus, tapi kuat dan fungsional sampai tua,” pungkas Bang Tiwa yang 18 tahun di dunia gym.(tw*)







