Kajari Toraja Soroti Kasus Bunuh Diri dan Perjudian, Solusinya?

oleh

TANA TORAJA, SABER | Menyikapi makin maraknya kasus bunuh diri dan perjudian di Kabupaten Toraja Utara dan Kabupaten Tana Toraja, yang menimbulkan keprihatinan berbagai pihak salah satunya Kejaksaan Negeri (Kejari) Tana Toraja (Tator).

Sebagai wujuh kepedulian mengenai kejadian tersebut Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten kembali melaksanakan Jaksa Menyapa yang merupakan program kejaksaan dalam beberapa tahun terakhir ini.

Kegiatan yang di laksanakan di teras kantor Kejari Tana Toraja, membahas tentang tingginya angka bunuh diri dan juga perjudian di Toraja, dengan menghadirkan sejumlah narasumber terkait, Rabu (24/02/2021).

Menurut Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tator, Jefri P. Makapedua dalam kesempatan itu mengatakan dalam dua tahun terakhir kasus bunuh diri, dan bahkan perjudian terus meningkat, oleh karena Kejari merasa terpanggil untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dengan menghadirkan sejumlah tokoh-tokoh terkait.

“Kami berharap dengan adanya kegiatan jaksa menyapa khusus menyoroti perkembangan kasus bunuh diri dan perjudian di Toraja ini, kita harapkan dapat menekan angka bunuh diri dan kasus perjudian di Toraja ” pungkas Jefri.

Menurut ketua MUI Toraja, Zainal Muttaqien dalam kesempatan itu mengatakan salah satu penyebab orang bunuh diri karena iman yang kurang sehingga saat menghadapi persoalan sehingga depresi dan mengambil jalan pintas dengan bunuh diri.

Ditambah lagi pengaruh mendia sosial turut mengambil bagian dalam tingginya angka bunuh dirinya.

“Karena itu diharapkan peranan semua pihak agar angka bunuh diri bisa ditekan, dan dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat berdampak baik sehingga angka bunuh diri bisa ditekan” pungkas Zainal.

Menurut pendeta Gereja Toraja, Pdt. Oky Wenty Kombong dalam kesempatan itu mengapresiasi Kejari Tator yang cepat mengambil langkah dengan mengumpulkan tokoh masyarakat untuk memberikan pemahaman kepada semua masyarakat.

Lanjutnya, Oky bahwa semua agama tidak membolehkan bunuh diri, karena kita harus selalu menghargai kehidupan kita. Dan dibutuhkan peranan gereja dengan merangkul jemaatnya agar jika dalam menghadapi persoalan bisa memberikan solusi.”tutup Oky.(rls*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *