SABER, PALOPO | (OPINI). Nama Salwan Momika menjadi target kecaman dunia Islam setelah aksinya membakar kitab suci Al-Qur’an di depan masjid terbesar Stockholm Swedia, Rabu pekan lalu, saat umat Islam merayakan Idul Adha.
Ironisnya, aksi Momika yang ateis itu mendapat persetujuan dari pemerintah setempat dengan dalih kebebasan berekspresi.
Pembakaran kitab suci Al-Qur’an di Swedia bukan kali pertama. Sebelum itu, Rasmus Paludan juga melakukannya.
Pemerintah Indonesia melalui kementerian luar negeri telah mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras aksi provokatif tersebut dan menyatakan, bahwa tindakan itu sangat mencederai perasaan umat Muslim dan tidak bisa dibenarkan.
Bahkan, Prof. Komaruddin Hidayat Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) turut mengomentari kejadian itu, kata Prof. Komaruddin, tiap bangsa dan masyarakat punya karakter dan konteks sosial keagamaan yang khas dan berbeda.
Kerukunan hidup beragama di Indonesia itu menjadi inspirasi dunia. Sebagai Muslim yang menjadi inspirasi, sebaiknya insiden ini tidak usah di respon dengan marah-marah. Mereka itu tidak tahu isinya, jawab saja dengan prestasi keilmuan dan peradaban.
Pernyataan Prof. Komaruddin Hidayat, mengingatkan penulis pada peristiwa ketika Raja Abrahah dengan pasukan gajahnya menyerbu Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah. Pemimpin suku Quraisy saat itu, yang sangat disegani Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad Saw.
Malah mengemasi barang-barangnya dan mengumpulkan kerabat dekatnya untuk segera hengkang dari Mekkah. Sikap paman Nabi tersebut, membuat kaget suku Quraisy. Kata Abdul Muthalib, “Ka’bah itu milik Allah SWT, biarlah Allah yang melindunginya”
Benar saja, ketika pasukan gajah hendak mengobrak-abrik Ka’bah. Allah SWT menurunkan burung ababil yang mencengkram bara api neraka di kaki kaki mereka dan menjatuhkannya ke pasukan gajah.
Akibatnya sangat mengerikan, seluruh pasukan gajah tewas menggelepar karena gosong terkena bara api neraka, dan selamatlah Ka’bah dari upaya penghancuran tersebut. Peristiwa di atas diabadikan dalam kitab suci Al-Qur’an surah al-fiil (gajah).
Penulis berpandangan, bahwa apa yang dilakukan oleh Momika adalah sebuah bentuk perbuatan keji dan tentu tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun.
Momika dan Raja Abrahah mempunyai karakter yang sama. Abrahah hendak menghancurkan rumah Allah sementara Momika ingin menghancurkan reputasi firman Allah.
Hasilnya ? Raja Abrahah gagal total dengan hukuman atau balasan yang sangat mengerikan dan penulis berharap, Allah SWT memberikan balasan yang setimpal terhadap Momika yang telah melecehkan firman-Nya.
Untuk itu, merespon tindakan Momika, tidak perlu bereaksi atau marah berlebihan yang berpotensi merusak kerukunan umat beragama yang terjalin sangat baik di negara kita saat ini.
“Jangan marah-marah” begitu kata Prof. Komaruddin, yang penulis maknai marah berlebihan (*)