SABER, PALOPO | Fenomena body dysmorphia semakin sering muncul di kalangan pecinta olahraga kebugaran, khususnya anak-anak muda yang aktif berlatih di pusat gym.
Alih-alih merasa bangga atas perkembangan tubuh mereka, sebagian justru mengalami perasaan tidak puas yang berlebihan.
Aktivis Kebugaran sekaligus Influencer fitness asal Palopo, Bang Tiwa, menilai kondisi ini tidak lepas dari tekanan sosial, standar penampilan yang dianggap ideal, hingga pengaruh media digital yang kerap menampilkan tubuh sempurna.
Menurut Bang Tiwa, body dysmorphia adalah kondisi ketika seseorang memandang tubuhnya secara keliru. Walaupun secara fisik sudah proporsional, sehat, bahkan berotot, orang dengan gangguan ini masih merasa tidak cukup. Mereka melihat bayangan di cermin seakan tubuhnya kecil, jelek, atau belum sesuai standar,” jelasnya. Jumat (3/10/25).
Ia menyebutkan, hal tersebut bisa menimbulkan stres, perilaku latihan berlebihan (overtraining), hingga berdampak buruk pada kesehatan mental.
Ia menambahkan bahwa lingkungan sekitar juga berperan besar dalam memperkuat rasa tidak puas tersebut. Persaingan di tempat gym yang cenderung ketat, ekspektasi untuk mendapatkan hasil instan, serta budaya perfeksionis membuat banyak orang akhirnya sulit menghargai progresnya sendiri. Kebanyakan ingin cepat kelihatan hasil, padahal fitness adalah perjalanan panjang, bukan sesuatu yang instan,” lanjutnya.
Bang Tiwa juga mengingatkan agar warga lebih bijak dalam memaknai olahraga. Menurutnya, tujuan utama bukan hanya membentuk tubuh yang dianggap ideal, melainkan membangun gaya hidup sehat secara menyeluruh. Hal itu meliputi asupan gizi seimbang, kualitas tidur yang cukup, manajemen stres, serta menjaga pola pikir positif agar tidak terjebak dalam obsesi berlebihan terhadap penampilan.
“Kalau kita terus membandingkan diri dengan orang lain, rasa puas tidak akan pernah datang. Yang terpenting adalah menikmati proses, bersyukur atas setiap perkembangan sekecil apapun, dan menjadikan olahraga sebagai investasi kesehatan jangka panjang, bukan sekadar ajang pembuktian,” pungkas Bang Tiwa.(*)







