Nurdin : Jangan Seperti Mangga Mengkal

SABER, PALOPO  |  (OPINI). Ada ungkapan budayawan Sulawesi Selatan Almarhum Mattulada. Yang menurut penulis atau bahkan mungkin juga Anda, menarik untuk diaplikasikan di dalam kehidupan agar hidup lebih bermakna dan bermanfaat bagi sesama.

Kata beliau, “Mangga yang mengkal lebih keras dari mangga yang matang; Mangga yang matang aromanya menyebar, hingga kulitnya pun dikerumuni lalat karena harumnya.

Bacaan Lainnya

Bijinya yang dibuang ke tanah pun bisa tumbuh. Mangga yang mengkal dan mentah biasanya hanya menjadi buruan orang-orang sakit.”

Berbicara mengenai mangga, teringat akan tulisan guru saya, judulnya tergolong nyeleneh; “Pao Sukkara” Nyeleneh, sebab boleh jadi hanya suku tertentu yang mengerti arti Pao Sukkara.

Namun, terlepas dari itu, nilai yang terkandung dalam tulisannya sangat menginspirasi.

Katanya, bahwa dalam konteks kehidupan sehari-hari, terkadang kita dipertemukan orang dengan kepribadian yang matang sebagaimana buah mangga sukkara (“Pao sukkara”) aromanya harum dan menarik.

Sehingga tidak perlu memperkenalkan diri sebagai mangga, sebab aroma kematangannya akan menyebar ke mana-mana secara alamiah. Demikian halnya dengan orang yang benar-benar matang tanpa dia memperkenalkan diri kalau dia matang.

Oleh karena aroma kematangannya menyebar ke mana-mana, akan menyenangkan semua orang.

Ibarat wangi bunga jika ingin wangi yang harum, tidak perlu tiupan kipas angin dengan angin yang alami, sudah cukup.

Berbeda halnya dengan mangga mengkal apalagi masih muda, tidak ada aroma sama sekali bahkan kulit buangannya tidak diminati oleh binatang karena tidak menyisakan aroma sama sekali. Dalam praktiknya, mangga yang mengkal biasanya diminati orang-orang tertentu saja.

Katakanlah untuk dibuat rujak atau apalah namanya, mangga muda lebih terbatas lagi biasanya hanya dijadikan pelengkap makanan.

Peminat mangga mengkal atau muda (mentah) terkadang orang sakit, anggaplah perempuan yang lagi ngidam.

Orang yang masih mengkal, sikap dan responnya lebih keras dari yang matang, apalagi yang masih muda sementara orang yang matang lebih fleksibel dalam merespon permasalahan kehidupan.

Demikian halnya dalam konteks orang berilmu. Orang yang memiliki kedalaman ilmu akan menunjukkan kematangan bagaikan mangga (“pao sukkara”) teksturnya fleksibel, pribadinya menarik. Dia tidak akan terlibat dalam perdebatan pada suatu masalah.

Karena orang berilmu dengan segala kearifan yang ada padanya, memahami masalah dari berbagai perspektif. Sebaliknya orang yang baru belajar sangat gigih mempertahankan pendapatnya.

Baru mempelajari atau membaca satu dua buku saja, dia sudah sangat berani untuk berdebat. Jangankan orang lain, kalau perlu gurunya pun dilawannya.

Kata guru saya, orang seperti itu ibarat pemain karate baru belajar 1-2 jurus dia sudah berani untuk bertarung dengan siapa pun bahkan terkadang lebih berani dari gurunya. Maklum, ibarat mangga dia masih muda, masih mengkal.

Orang yang berilmu ibarat sungai yang dalam, permukaannya mengalir dengan tenang, tidak berisik. Sebaliknya, orang yang ilmunya dangkal seperti sungai yang dangkal, airnya berisik, terpercik ke mana-mana. Kata pepatah “Sungai beriak tanda dalam”.

Pada hakikatnya tidak ada orang yang benar-benar pintar, sebab setiap orang senantiasa terbatas pada akal, data dan literasi.

Demikian kata Allah SWT “Wa ma utitum minal-ilmi Illa qalila” (Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit) surat aL-Isra ayat 85.

Jadi, keterbatasan nalar adalah merupakan suatu keniscayaan sebab merasa paling benar, paling berilmu, paling hebat. Jika merujuk pada ayat di atas adalah sebuah bentuk keangkuhan.

Untuk itu, sebaiknya kita tidak seperti mangga mengkal atau mangga muda karena hanya akan memenuhi selera orang sakit.

Atau tidak seperti sungai yang dangkal sebab biasanya berisik. Jadi, teruslah belajar, belajar, dan belajar agar segera menjadi matang.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.