SABER, PALOPO | Tren olahraga lari semakin diminati masyarakat karena dinilai mudah dan murah dilakukan. Namun di balik manfaatnya, lari setiap hari ternyata tidak selalu dianjurkan, terutama tanpa memperhatikan waktu istirahat dan pemulihan tubuh.
Seorang influencer fitness asal Palopo, Bang Tiwa, yang telah hampir 19 tahun berkecimpung di dunia gym dan juga aktif sebagai pegiat lari, mengingatkan bahwa tubuh manusia memiliki batas kemampuan. Menurutnya, banyak orang keliru menganggap semakin sering berlari, maka hasilnya akan semakin cepat terlihat.
“Setiap kali kita lari, otot itu mengalami tekanan dan mikro-cedera. Nah, tubuh butuh waktu untuk memperbaiki itu. Kalau dipaksakan setiap hari tanpa istirahat, justru bukan makin kuat, tapi bisa melemah,” jelasnya saat ditemui.
Ia juga menyoroti risiko cedera akibat penggunaan berulang atau yang dikenal sebagai overuse injury. Cedera seperti nyeri tulang kering (shin splints), sakit lutut, hingga peradangan tendon menjadi keluhan umum bagi pelari yang terlalu sering berlatih tanpa jeda.
Selain cedera fisik, Bang Tiwa menambahkan bahwa terlalu sering berlari juga bisa memicu kondisi overtraining syndrome. Kondisi ini ditandai dengan kelelahan berkepanjangan, penurunan stamina, gangguan tidur, hingga menurunnya motivasi untuk berolahraga.
Tak hanya itu, ia juga mengingatkan bahwa lari berlebihan tanpa diimbangi latihan lain dapat memengaruhi bentuk tubuh. “Kalau fokusnya hanya lari terus, tanpa latihan kekuatan, biasanya tubuh jadi kurang proporsional. Lengan bisa terlihat lebih kecil karena otot tidak dilatih, dan bagi sebagian orang, penampilan bisa tampak lebih kurus bahkan terlihat lebih tua dari usia sebenarnya,” ujarnya. Rabu (25/3/26).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa hal tersebut bukan berarti lari itu buruk, melainkan perlu diimbangi dengan pola latihan yang tepat. Kombinasi antara lari, latihan beban, serta istirahat yang cukup dinilai lebih efektif untuk menjaga kebugaran sekaligus penampilan tubuh.
Sebagai solusi, ia menyarankan agar lebih bijak dalam mengatur jadwal latihan. “Idealnya lari cukup 1 sampai 2 kali seminggu, sisanya bisa dipakai untuk istirahat atau olahraga lain seperti bersepeda atau latihan beban. Yang penting konsisten dan jaga kesehatan jangka panjang, bukan memaksakan diri setiap hari,” tutupnya.(*)





