SABER, PALOPO | Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) dan ego lifting kian marak di dunia kebugaran, terutama di kalangan anak muda. Banyak orang datang ke gym bukan lagi untuk membangun kesehatan, tapi untuk sekadar terlihat kuat di media sosial.
Hal ini diungkapkan oleh Influencer fitness asal Palopo, Bang Tiwa, yang menilai tren tersebut justru menjauhkan makna sejati dari latihan beban.
Banyak yang latihan bukan karena ingin sehat, tapi karena takut ketinggalan tren atau ingin dianggap hebat. Akhirnya, mereka mengorbankan teknik, bahkan keselamatan,” ujar Bang Tiwa yang sudah 18 tahun di dunia gym. Kamis (23/10).
Menurutnya, ego lifting kebiasaan mengangkat beban di luar kemampuan hanya demi gengsi adalah bentuk kesalahan fatal yang sering terjadi di gym. Alih-alih mempercepat hasil, hal ini justru memperbesar risiko cedera dan menurunkan kualitas latihan jangka panjang.
Latihan itu soal konsistensi, bukan pembuktian. Kalau tujuannya cuma biar dilihat orang, itu bukan fitness, tapi kompetisi ego,” tegasnya.
Bang Tiwa menambahkan, tren FOMO di media sosial membuat banyak pemula terjebak membandingkan progres tubuhnya dengan orang lain. Padahal, setiap tubuh punya ritme dan respon yang berbeda terhadap latihan maupun nutrisi.
Lihat postingan orang lain boleh, tapi jangan dijadikan standar. Fokus saja pada versi terbaik dari diri sendiri. Gym bukan panggung, tapi tempat belajar disiplin,” ucapnya lagi.
Ia juga mengingatkan bahwa dunia kebugaran seharusnya menjadi ruang yang membangun mental dan karakter, bukan sekadar mengejar validasi.
Kalau semua cuma ikut-ikutan tren, kita kehilangan nilai dari prosesnya. Fitness bukan tentang siapa paling cepat, tapi siapa paling konsisten,” ujar Bang Tiwa.
Terakhir, Bang Tiwa berpesan bahwa otot kuat seharusnya lahir dari niat yang tulus, bukan dari dorongan untuk terlihat kuat di depan kamera.”tutupnya.(*)





