SABER, PALOPO | Memasuki usia 40 tahun ke atas, menjaga kesehatan fisik menjadi semakin penting. Namun, pertanyaan klasik kembali mencuat lebih baik fokus pada latihan di gym atau rutin berlari?
Aktivis kebugaran sekaligus influencer fitness, Bang Tiwa, menegaskan bahwa pada usia tersebut massa otot memegang peranan vital. Otot bukan sekadar penunjang penampilan, tetapi juga fondasi kekuatan tulang dan daya tahan tubuh jangka panjang.
“Lari memang penting, apalagi untuk mendukung latihan beban. Tapi jangan terlalu sering, cukup sekali seminggu saja. Kalau keseringan, otot bisa menyusut. Intinya, lari itu melatih fisik dan jantung, sedangkan angkat beban membangun otot agar kita tetap bugar hingga usia lanjut,” jelasnya.
Bang Tiwa menambahkan, seiring bertambahnya usia, massa otot pada pria maupun wanita memang cenderung menurun. Karena itu, latihan beban menjadi kunci mempertahankan kekuatan tubuh. Beban bukan hanya menjaga otot dan tulang, tapi juga berdampak pada penampilan. Tubuh terasa lebih muda, kulit tidak cepat kering, dan metabolisme tetap terjaga,” ujarnya. Jumat (26/09/25).
Senada dengan hal itu, dr. Rini Anggraini, dokter umum, menjelaskan bahwa penurunan massa otot atau sarcopenia mulai terjadi sejak usia 30-an dan semakin cepat setelah melewati usia 40 tahun.
“Latihan kekuatan seperti angkat beban terbukti efektif memperlambat penurunan massa otot sekaligus menjaga kesehatan tulang. Sementara itu, olahraga kardio seperti lari tetap dibutuhkan, hanya saja intensitasnya perlu disesuaikan. Jika berlebihan, energi yang terbakar justru bisa mengganggu pembentukan otot,” terang dr. Rini. Dilansir dari salah satu media.
Dengan pemahaman tersebut, masyarakat diharapkan lebih bijak memilih jenis olahraga. Kombinasi antara latihan kekuatan di gym dan lari ringan dinilai sebagai pilihan terbaik, dengan menjaga massa otot sebagai kunci utama untuk tetap sehat, bugar, dan produktif hingga usia lanjut. (*)







