Opini, Nurdin: Aji Mumpung Sang Hakim Agung

SABER  |  SEORANG wartawan senior Mochtar Lubis, pernah berkata, bahwa “Korupsi di Indonesia sudah membudaya”.

Namun, penyakit korupsi bukan hanya terjadi di Indonesia melainkan di seluruh dunia. Buktinya ? Ada Hari Anti Korupsi sedunia.

Bacaan Lainnya

Hal itu merupakan fenomena kekhawatiran dan keprihatinan bersama dari semua negara atas praktik korupsi.

Sehingga, kalau kita merujuk kalimat Mochtar Lubis di atas, maka tidak begitu mengejutkan dengan adanya seorang hakim Agung yang diduga melakukan tindak pidana korupsi.

Adalah Sudrajad Dimyati seorang hakim Agung kamar perdata MA, yang baru-baru ini diberitakan diduga menerima suap sebesar Rp 800 juta supaya membuat putusan kasasi yang menetapkan Koperasi Simpan Pinjam Intidana pailit.

Tentu, peristiwa itu merupakan tamparan tidak hanya para sejawatnya yang senantiasa berusaha menepis praktik korupsi tapi juga wajah peradilan di Indonesia sebab MA adalah puncak dari para pencari keadilan.

Dan bukan kali ini saja, berdasarkan data KPK sejak lembaga antirasuah itu berdiri, tidak kurang dari 21 orang hakim yang melakukan praktik curang seperti itu.

Lantas, mengapa orang korupsi ?

Setidaknya ada 3 penyebabnya :
Pertama; adalah karena Keserakahan. Gaji besar, jabatan tinggi, rumah bagus, mobil mewah tapi karena kekuasaan yang tidak terbendung sehingga mereka terlibat praktik korupsi. Kedua; adalah karena kebutuhan dan yang ketiga; adalah karena kesempatan alias Aji mumpung.

Bahkan, pandangan Dr. Mas Alim Katu, bahwa pelaku korupsi yang berprinsip “Aji mumpung” senantiasa berkata, kapan lagi kalau bukan sekarang. Dulu, sebelum jadi pejabat hidupnya biasa-biasa saja setelah menjabat hidupnya berubah menjadi mewah, ini dikarenakan adanya peluang yang besar untuk melakukan korupsi.

Mitos Aji mumpung, didorong oleh kekhawatiran yang berlebihan akan hilangnya kekuasaan yang digenggamnya karena itu, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memperkaya diri sendiri, sebab tidak selamanya bisa jadi pejabat.

Ibarat pepatah Jawa, “Sekarang zaman edan (gila) jika tidak ikut-ikutan edan tidak kedumen (kebagian). Lalu, bagaimana mencegah perilaku koruptif ? Paling tidak dengan 2 (dua) cara yaitu cintai ilmu pengetahuan dan jaga integritas. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.